burung terbang

Rabu, 14 Mei 2014

DOWNLOAD ANTI VIRUS

Virus sangat sulit di hilangkan
menghilangkanya harus dengan anti virus di bawah ini

Kalau mau download
Ane kasih linknyahttp://windows.microsoft.com/en-us/windows/antivirus-partners#AVtabs=win7

Insyaallah berguna!!!!

Jumat, 09 Mei 2014

cheat dragon city

Earth Dragon Hybrid Generation 1
Earth + Fire = Flaming Rock or Volcano
Earth + Plant = Tropical or Cactus
Earth + Water = Mud or Waterfall
Earth + Electric = Star or Chameleon
Earth + Ice = Alpine or Snow Flake
Earth + Metal = Armadillo
Earth + Dark = Hedgehog or Venom


Fire Dragon Hybrid Generation 1
Fire + Earth = Flaming Rock or Volcano
Fire + Water = Cloud or Blizzard
Fire + Plant = Firebird or Spicy
Fire + Electric = Laser or Hot Metal
Fire + Metal = Medieval or Steampunk
Fire + Dark = Vampire or Dark Fire

Water Dragon Hybrid Generation 1
Water + Earth = Mud
Water + Fire = Cloud or Blizzard
Water + Plant = Nenufar or Coral
Water + Electric = Lantern Fish or Storm
Water + Ice = Icecube or Ice Cream
Water + Metal = Mercury or Seashell
Plant Dragon Hybrid Generation 1
Plant + Earth = Tropical
Plant + Fire = Firebird or Spicy
Plant + Water = Nenufar or Coral
Plant + Ice = Dandelion or Mojito
Plant + Metal = Jade or Dragonfly
Plant + Dark = Carnivore Plant or Rattle Snake
Electric Dragon Hybrid Generation 1
Electric + Earth = Star or Chameleon
Electric + Fire = Laser or Hot Metal
Electric + Water = Lantern Fish or Storm
Electric + Metal = Golden Or Battery
Electric + Dark = Neon
Electric + Ice = Moose
Ice Dragon Hybrid Generation 1
Ice + Earth = Alpine or Snow Flake
Ice + Water = Icecube or Ice Cream
Ice + Plant = Dandelion or Mojito
Ice + Medal = Platinum
Ice + Electric = Moose

Metal Dragon Hybrid Generation 1
Metal + Fire = Medieval or Steampunk
Metal + Water = Mercury or Seashell
Metal + Ice = Platinum
Metal + Plant = Jade or Dragonfly
Metal + Electric = Golden or Battery
Metal + Dark = Zombie
Dark Dragon Hybrid Generation 1
Dark + Earth = Hedgehog or Venom
Dark + Fire = Vampire or Dark Fire
Dark + Plant = Carnivore Plant Or Rattle Snake
Dark + Electric = Neon
Dark + Ice = Penguin
Dark + Metal = Zombie
Dark + Mud = Poo

Generasi 2 Naga Pembibitan - Hybrid Rare
 Mud (Earth + Water) + Dark = Poo.
 Medieval (Fire + Metal) + Alpine (Ice + Earth) = Cool Fire Or Soccer/Pearl/ Armadillo/Flaming Rock
 Neon (Dark + Electric) + Nenufar (Water + Plant) = Pirate
 Zombie + Mud (Earth + Water) = Petroleum
 Laser (Fire + Electric) + Dandelion (Plant + Ice) = Gummy or Fluorescent or Laser
Catatan khusus:Api dingin juga dapat diperoleh melalui Laser (Api + listrik) dan Dandelion (Tanaman + Ice), Firebird dan Ice.Armadillo juga dapat diperoleh melalui: medieval + alpine, mutiara + alpine, batu giok + bintang, Zombie + Lumpur, dan Pearl + menyala batu nagaGummy juga dapat diperoleh melalui: Firebird + fluorecent, firebird + bintang, Jade + bintang, dan neon + nenufarPirate juga dapat dibiakkan dari: Rattlesnake + lanternfish dan neon + awan
Perlu dicatat bahwa tambahan Medieval + Alpine naga adalah salah satu dari rumus peternakan terbaik naga di Dragon City karena kemampuannya untuk berbagai jenis dibesarkan dari rares hybrid.


Generasi 3 Naga Pembibitan - Legendary
Pengembangbiakan naga daftar untuk pangkat legendaris baik, cukup langka. Anda benar-benar harus bergantung pada keberuntungan Anda untuk mendapatkan menembak pendaratan tersebut naga. Karena jenis elemen yang terkait dengan keturunan langka yang cukup kompleks, kita tidak memiliki formula yang tepat untuk ini

Rabu, 07 Mei 2014

PIDATO SHALAT JUM'AT


  1. KHUTBAH SHALAT JUM'AT

    BERTAKWA KE PADA ALLAH SWT

    KHUTBAH PERTAMA
    الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَفَضَّلَهُ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ بِالْإِنْعَامِ وَالتَّكْرِيْمِ، فَإِنِ اسْتَقَامَ عَلى طَاعَةِ اللهِ اسْتَمَرَّ لَهُ هذَا التَّفْضِيْلُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَإِلاَّ رُدَّ فِي الْهَوَانِ وَالْعَذَابِ الْأَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهِدَ لَهُ رَبُّهُ بِقَوْلِهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمِ} صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ سَارُوْا عَلَى النَّهْجِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:
    أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
    Ayyuhal muslimun! Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنَكُمْ وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
    Dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang beriman.” (Q.S. Al-Anfal:1)
    Ibadallah! Salah satu prinsip besar yang dibangun oleh agama kita ialah prinsip ukhuwwah (persaudaraan) di antara sesama orang beriman.
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
    Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Q.S. Al-Hujurat :10)
    Jika hubungan persaudaraan yang ada di antara manusia sangat beraneka ragam menurut macam-macam tujuan dan maksudnya, maka hubungan persaudaraan yang paling kokoh talinya, paling mantap jalinannya, paling kuat ikatannya, dan paling setia kasih sayangnya ialah persaudaraan berdasarkan agama. Karena, persaudaraan semacam ini tidak putus talinya, tidak akan berubah karena perubahan zaman, dan tidak akan berbeda karena perbedaan orang dan tempat. Persaudaraan yang berlandaskan akidah dan iman, serta berdasarkan agama yang murni karena Rabb Yang Mahaesa senantiasa mampu mempersatukan umat Islam dari berbagai penjuru. Inilah rahasia kekuatan dan kekokohannya. Inilah kunci keakraban para personelnya yang ada di belahan bumi bagian timur maupun barat. Dan inilah yang membuat mereka menjadi satu kesatuan yang pilar-pilarnya sangat kuat dan bangunannya sangat kokoh. Sehingga, badai topan pun tidak sanggup menggoyahkannya. Ia laksana bangunan yang dibangun dengan timah dan ibarat tubuh yang satu.
    Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullahu shallallahu ‘slaihi wa sallam bersabda,
    Sesungguhnya orang mukmin bagi mukmin (lainnya) bagaikan bangunan yang satu sama lain saling menguatkan.” (Shahih Al-Bukhari, 481, dan Shahih Muslim, 2585 ). “Dan beliau pun menyilangkan jari-jemarinya,” kata Abu Musa.
    Sementara An-Nu’man bin Basyir radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    Perumpamaan orang-orang beriman di dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti tubuh. Jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka anggota tubuh lainnya akan memberikan kesetiaan kepadanya dengan berdagang (susah tidur) dan demam.” (H.R. Al-Bukhari, 6011 dan Muslim, 2587 )
    Saudara-saudara sekalian! Sesungguhnya, ukhuwwah Islamiyah adalah ruh dari iman yang kuat dan inti dari perasaan yang meluap-luap yang dirasakan oleh seorang muslim terhadap saudara-saudaranya yang seakidah. Bahkan, ia merasa bahwa ia bisa hidup karena mereka, bersama mereka dan di tengah-tengah mereka. Seolah-olah mereka semua adalah ranting-ranting yang tumbuh dari satu batang pohon dan muncul dari pokok yang sama. Dengan perasaan itu, maka hilanglah perbedaan kesukuan dan warna kulit, lenyaplah perbedaan ras, dan matilah fanatisme kebangsaan dan kesukuan. Sehingga, yang ada hanyalah pondasi besar yang menjadi landasan berdirinya masyarakat Islam internasional yang dihimpun oleh satu tali dan dinaungi satu bendera, yakni bendera iman dan tali ukhuwwah Islamiyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لتعارفوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
    Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)
    Saudara-saudara seiman dan seagama! Di dalam masyarakat Islam yang berlandaskan akidah iman dan bertemu pada titik syi’ar Islam, persaudaraan akidah menggantikan persaudaraan nasab (darah), dan ikatan iman menggantikan ikatan-ikatan materi, kepentingan individu, maupun ambisi pribadi. Di situ seorang mencintai saudara-saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Ia merasa sedih bila mereka sedih dan ia merasa senang bila mereka senang. Ia selalu berbagi suka dan duka bersama mereka. Oleh karena itu, Islam memberantas gejala-gejala egoisme dan mental suka mementingkan diri sendiri yang kejam. Karena, ia merupakan kecenderungan yang tercela dan bencana yang buruk yang diberantas oleh Islam, serta diganti dengan rasa persaudaraan dan persahabatan.
    Siapa pun yang meneliti sejarah umat ini akan menemukan, bahwa umat Islam belum pernah bersatu kata, merapatkan barisan, mengangkat panji-panji kejayaan, menegakkan negara, atau disegani musuh, melainkan karena rasa persaudaraan yang sangat kuat di antara mereka dan tidak ada bandingannya di dalam sejarah umat manusia. Yaitu sebuah persaudaraan yang sangat kuat dan kokoh yang menjadi pondasi bangunan umat yang perkasa, tangguh, kuat, dan gagah. Sehingga, setelah bertarung melawan musuh-musuhnya, posisinya sangat disegani, tiang-tiangnya menjulang tinggi dan pilar-pilarnya sangat kokoh.
    Wahai umat Islam sekalian! Di dalam sejarah kita mendapat banyak contoh nyata dan peristiwa yang tiada tara yang menggambarkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan di antara sesama umat Islam. Yang paling masyhur ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Sehingga, setiap orang Anshar memiliki saudara dari kalangan Muhajirin. Bahkan, ada orang Anshar yang mengajak saudaranya dari kalangan Muhajirin ke rumahnya, kemudian ia menawarkan kepadanya untuk berbagi harta bendanya yang ada di rumahnya. Dan ia pun siap berbagi suka dengannya. Persaudaraan manakah di dunia ini yang bisa menandingi ukhuwwah Islamiyah tersebut?
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    وَالَّذِينَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَيَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
    Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q.S. Al-Hasyr: 9)
    Kemudian, apa yang terjadi setelah banyak umat Islam dikuasai hatinya oleh materi, peradaban yang palsu merajalela di mana-mana, dan dunia melompat dari tangan ke dalam hati, lalu bertemu dengan iman yang lemah dan pendidikan yang salah, dan melaju bersama kesenangan dan materi, lalu tunduk di hadapan tantangan yang menghadang? Yang terjadi setelah itu adalah ketegangan hubungan sosial di antara sesame, karena sebab yang sangat sepele. Bahkan, ketegangan itu pun terjadi di antara orang-orang yang memiliki hubungan dekat, baik hubungan nasab (keturunan), perkawinan, persahabatan, maupun tetangga. Sehingga pertikaian merajalela, pertengkaran terjadi di mana-mana, perpecahan meluas, dan pemutusan hubungan menjadi-jadi. Kondisi itu menyebabkan hilangnya kasih sayang dan kejernihan, menimbulkan perpecahan dan gugat-menggugat, lalu memicu timbulnya sikap egois dan mementingkan diri sendiri.
    Gejalanya bermacam-macam dan banyak ditemukan di tengah masyarakat. Hal itu dipicu oleh lemahnya ukhuwwah Islamiyah di antara umat Islam, bahkan di antara sesama anggota keluarga. Misalnya, ada orang yang terlibat pertengkaran kecil dengan saudara kandungnya karena memperebutkan secuil harta. Lalu, masalahnya menjadi pelik dan semakin besar. Para juru runding gagal mendamaikan mereka. Masing-masing ngotot ingin menempuh jalur hukum dan mondar-mandir ke pengadilan hanya untuk melampiaskan dendam kepada saudaranya sendiri, gara-gara segenggam harta atau sejengkal tanah. Bahkan, ada orang yang tidak bertegur sapa dengan saudara kandungnya selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Subhanallah!
    Mengapa semua ini bisa terjadi? Seorang adik menggugat kakak kandungnya ke pengadilan!
    Ada pula orang yang tidak pernah berkunjung ke rumah pamannya atau saudara sepupunya. Bahkan, juga tidak pernah menghubunginya melalui telepon untuk sekadar basa-basi. Dan itu bisa bertahan selama bertahun-tahun.
    Ada kawan dekat dan teman akrab yang bersahabat selama bertahun-tahun dalam suasana yang harmonis. Lalu, tiba-tiba terjadi sedikit kesalahpahaman dan mendadak tali persahabatannya putus begitu saja, bahkan berubah menjadi permusuhan, dendam, dan buruk sangka.
    Ada tetangga dekat yang dinding rumahnya berhimpitan dengan dinding rumah Anda. Anda menyukainya dan dia pun menyukai Anda. Anda suka berkunjung ke rumahnya dan dia pun suka berkunjung ke rumah Anda. Tiba-tiba anak-anak seperti biasa bertengkar, lalu para ibu ikut campur, teriakan membahana, dan para ayah yang berakal sehat pun terlibat. Akibatnya, terjadi perang dahsyat di antara mereka. Kata-kata kotor meluncur, tangan diacung-acungkan, dan pihak berwenang pun ikut campur. Hasilnya, terputusnya hubungan secara permanen, permusuhan abadi dan caci maki di depan umum. Bahkan, tidak jarang mendorong seseorang untuk pindah rumah dan balas dendam. Allahul musta’an! Inikah umat yang bersatu? Inikah ajaran ukhuwwah Islamiyyah yang benar? Cukuplah, wahai hamba-hamba Allah! Hentikanlah permusuhan dan pertengkaran! Awas, jangan sampai setan berhasil mengadu domba Anda! Berdamailah, wahai orang-orang yang berseteru! Sambunglah hubungan, wahai orang-orang yang memutuskan hubungan! Karena dampak buruk dari perseteruan dan pemutusan hubungan itu sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat. Tidakkah Anda mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga malam (hari). Mereka berdua berjumpa, lalu yang ini berpaling dan yang ini pun berpaling. Dan yang terbaik di antara mereka berdua adalah orang yang memulai mengucapkan salam.”(Shahih Al-Bukhari, 6077 dan Shahih Muslim, 2560)
    Atau sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tolonglah saudaramu dalam posisi sebagai orang zalim maupun korban kezaliman.” (Shahih Al-Bukhari, 2443)
    Atau sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    Amal manusia ditunjukkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis. Lalu orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni dosanya, kecuali orang yang memendam rasa permusuhan dengan saudaranya. Dia (Allah) berfirman, ‘Tinggalkan kedua orang ini sampai mereka berdamai.’” (H.R. Muslim dan lain-lain)
    Di sisi lain, sejauh mana dukungan umat Islam dalam mewujudkan ukhuwwah Islamiyah? Dalam arti, siapakah di antara kita yang mau melihat kondisi saudara-saudaranya dan keadaan tetangganya, terutama orang-orang yang miskin, lemah, tidak berdaya dan membutuhkan uluran tangan? Maka, siapa pun yang memiliki kelebihan uang, makanan atau pakaian hendaknya mencari saudara-saudaranya yang membutuhkan bantuan. Betapa banyak jumlah mereka! Karena hal itu dapat menciptakan kesetiakawanan dan menanamkan belas kasih. Dan hal itu akan meraup pahala yang melimpah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan orang-orang yang bergelimang harta, tetapi beberapa meter dari tempat tinggalnya ada saudara-saudaranya sesama muslim menjerit kelaparan, adalah orang-orang yang tidak mau membuktikan dasar yang agung ini.
    Wahai umat Islam! Ketika mengingatkan tentang kewajiban membangun ukhuwwah Islamiyyah, kita tidak boleh melupakan saudara-saudara kita yang seiman dan seakidah di berbagai belahan dunia. Kita semua berkewajiban memberikan bantuan, dukungan, doa, sumbangan, dan pertolongan kepada mereka. Lebih-lebih mereka yang tengah berjuang dengan tabah dan minoritas muslim yang tertindas di mana-mana.
    Kepada mereka yang tidak mau menyumbang dan tidak mau mendoakan saudara-saudaranya saya katakan: Jangan begitu! Karena saudara-saudara Anda sangat membutuhkan dukungan, bantuan dan doa Anda. Jangan menganggap remeh apa yang bisa Anda berikan.
    Sementara saudara-saudara kita yang ada di Palestina terus-menerus melakukan aksi heroik dan berjuang mati-matian, kendati bakal mereka sangat sedikit. Mereka terus menunggu uluran tangan, bantuan dan doa dari saudara-saudaranya yang seiman, sampai Allah berkenan membebaskan tanah suci itu dari pendudukan para perampok dan kotoran pada penjajah. Dan hal itu tidaklah sulit bagi Allah.
    بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

    KHUTBAH KEDUA

    الْحَمْدُ لِلهِ مُقَلِّبِ القُلُوْبِ وَعَلاَّمِ الغُيُوْبِ، وَقَابِلِ التَّوْبَةِ مِمَّنْ يَتُوْبُ، شَدِيْدِ الْعِقَابِ عِنْدَ قَسْوَةِ القُلُوْبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ سَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ
    Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ketahuilah, bahwa salah satu konsekuensi takwa adalah menunaikan hak-hak ukhuwwah Islamiyyah. Maka, latihlah diri Anda untuk mencintai saudara-saudara Anda yang seiman dan seagama sebagaimana Anda mencintai diri Anda sendiri. Yahya Ar-Razi berkata, “Hendaknya setiap orang mukmin minimal mendapatkan tiga hal dari Anda: jika Anda tidak bisa memberinya manfaat (keuntungan), maka jangan memberinya mudharat (kerugian), jika Anda tidak bisa membuatnya gembira, maka jangan membuatnya bersedih, dan jika Anda tidak mau memujinya, maka jangan mencelanya.”
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah! Sesungguhnya, menelantarkan seorang muslim adalah perkara besar yang bisa menyebabkan putusnya tali ukhuwwah Islamiyyah dan mendatangkan kehinaan dan kenistaan bagi semua orang. Dan umat Islam tidak mengalami kehinaan, kecuali pada saat tali ukhuwwah Islamiyyah melemah, di saat seorang muslim enggan berhubungan dengan saudaranya. Sementara pada saat yang sama musuh-musuh Islam bersatu padu melawan umat Islam.
    وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
    Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Q.S. Al-Anfal: 73)
    Bertobatlah wahai umat Islam, dari penyakit saling menjauhi, saling membantai, saling membenci, dan saling membelakangi. Bergeraklah menuju naungan cinta, perdamaian, tolong-menolong, persaudaraan dan keharmonisan, niscaya Anda akan dapat menggapai kebaikan yang Anda harapkan, di dunia dan akhirat. Dan perlu kiranya saya ingatkan, bahwa salah satu hasil nyata dari pembahasan ini adalah semua orang yang bertikai segera berdamai dan saling mengunjungi setelah mendengar khutbah ini. Ketahuilah, bahwa yang terbaik di antara mereka yang bertikai itu adalah yang memulai menyambung hubungan dan mengucapkan salam.
    Ibadallah! Dunia ini sangat kecil artinya. Dan apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih kekal.
    إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
    اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
    اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ






















    Takwa dan Keutamaannya
    KHUTBAH PERTAMA:
    الْحَمْدُ لِلهِ حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
    Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertakwa kepada-Nya dan menjanjikan berbagai keutamaan bagi siapa saja yang menjalankannya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada yang diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, serta seluruh kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.
    Hadirin rahimakumullah,
    Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Takwa adalah sebab yang akan membuat seseorang memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tidak bertakwa akan mendatangkan kesulitan dan bencana. Oleh karena itu, kita semuanya dan seluruh muslimin sesungguhnya sangat butuh akan takwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan di dalam Alquran, ayat-ayat yang berkaitan dengan takwa dan keutamaannya, begitu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits-haditsnya. Maka, takwa merupakan wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yang harus dipahami maksudnya dan senantiasa dijaga, serta dijalankan oleh setiap muslim. Bukan sekadar kalimat yang selalu didengar atau diucapkan, namun tidak diperhatikan dan tidak ada wujudnya.
    Jama’ah Jum’ah rahimakumullah,
    Para ulama telah menjelaskan definisi takwa dengan berbagai ungkapan yang berbeda-beda, namun semuanya kembali pada maksud yang sama. Yaitu agar seseorang membuat penghalang yang membentengi dan menjaga dirinya dari terkena kemarahan dan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesuatu yang akan menjadi penghalang, serta menjaga seseorang dari terkena azab Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak lain adalah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
    Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
    Ketahuilah, bahwasanya pondasi dari ketakwaan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah persaksiannya terhadap dua kalimat syahadat. Persaksian terhadap dua kalimat syahadat ini bukanlah sekadar diucapkan dengan lisan. Namun juga harus dipahami maknanya, serta diamalkan kandungannya. Sehingga, siapa saja yang telah bersaksi dengan dua kalimat syahadat ini, dia harus meninggalkan dan berlepas diri, serta meyakini batilnya segala bentuk peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengarahkan segala bentuk ibadahnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Begitu pula dia harus mengimani bahwa Muhammad bin ‘Abdillah ibn ‘Abdul Muththalib shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dan utusan-Nya. Yaitu dia meyakini bahwa beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh diibadahi, sekaligus beliau seorang Rasul yang tidak boleh didustai. Di samping itu, dia juga harus meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada satu pun yang hidup setelah diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali harus membenarkan seluruh ajarannya dan mengikuti agamanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
    Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya –yakni demi Allah– tidaklah satu pun yang telah mendengar tentang aku dari umat ini baik dari kalangan Yahudi dan tidak pula dari kalangan Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali (dia) termasuk dari penghuni neraka.” (H.R. Muslim)
    Hadirin rahimakumullah,
    Termasuk konsekuensi dari dua kalimat syahadat adalah harus mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih dari cintanya kepada selain keduanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
    Tidaklah sempurna iman salah seseorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada (cintanya kepada) anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya.” (H.R. Muslim)
    Di samping itu, dua kalimat syahadat juga mengharuskan orang yang mengucapkannya untuk mencintai saudaranya sesama muslim yang tidaklah dia mencintainya, kecuali karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
    Tiga perkara, yang apabila seseorang itu memilikinya, maka dia dengan sebab tiga perkara tersebut akan mendapatkan manisnya iman, (yaitu) seorang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya; dan dia mencintai saudaranya yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah; serta dia membenci untuk kembali terjatuh kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia tidak ingin dirinya dilempar ke api.” (H.R. Muslim)
    Seseorang yang masih mendahulukan keinginan dirinya dengan mengikuti hawa nafsunya daripada kecintaannya, serta ketaatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka hal itu menunjukkan kelemahan imannya dan kurang sempurnanya dirinya dalam melaksanakan dua kalimat syahadat.
    Hadirin rahimakumullah,
    Di samping itu, ketakwaan seseorang juga tidak akan terwujud kecuali dia harus menjalankan kewajiban yang paling besar setelah menjalankan dua kalimat syahadat yaitu menegakkan shalat lima waktu. Amalan ini merupakan tiang Islam, dan merupakan barometer untuk menimbang baik atau tidaknya amalan seseorang, serta sebagai pembeda yang membedakan antara seorang muslim dengan orang kafir.
    Hal ini disebutkan di dalam firman-Nya,
    فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينَ
    Dan jika mereka mau bertobat dan menegakkan shalat, serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.” (At-Taubah: 11)
    Ayat ini menunjukkan, bahwa orang yang tidak mau menjalankan kewajiban shalat lima waktu bukanlah saudara kita seiman.
    Hadirin rahimakumullah,
    Namun, perlu diketahui pula bahwasanya wajib bagi kaum laki-laki untuk menjalankan kewajiban shalat lima waktu ini secara berjamaah. Yaitu dengan menjalankannya di masjid, bukan di rumah. Adapun apa yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin, bahwa apabila di rumahnya ada satu orang laki-laki atau lebih bersamanya berarti dia bisa mengerjakan shalat berjamaah di rumahnya adalah pemahaman yang salah. Kewajiban shalat berjamaah di masjid ini merupakan paling besarnya syiar Islam yang harus nampak. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga kewajiban yang sangat besar ini yaitu shalat berjamaah di masjid sebagai bukti ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Marilah kita senantiasa berhati-hati dari segala hal yang akan menghalangi atau melalaikan kita dari shalat berjamaah, seperti mendatangi acara-acara hiburan yang diwarnai kemaksiatan atau menyaksikannya melalui layar televisi, serta berbicara atau ngobrol yang tidak menentu, dan yang semisalnya.
    Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
    Seseorang yang ingin bertakwa, dia harus mewujudkan persaksiannya terhadap dua kalimat syahadat. Yaitu dengan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya yang diibadahi dan meninggalkan seluruh jenis perbuatan syirik, serta membencinya sebagaimana bencinya dirinya terkena api. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa disebut sebagai orang yang bertakwa apabila dia masih membenarkan atau membolehkan diarahkannya salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun dia menjalankan shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Maka untuk mewujudkan takwa, seseorang harus membangun ibadahnya di atas pondasi ini, serta harus menegakkan shalat lima waktu yang akan menjadi tiang dari ketakwaannya. Selanjutnya sebagai bentuk ketakwaan yang sebenar-benarnya, dia pun harus menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya, serta meninggalkan larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas diri kita dengan tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu juga atas keluarga kita dengan menjalankan tanggung jawab kepada mereka dan tidak menyia-nyiakannya. Begitu pula, marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap kerabat kita dengan menjaga silaturahim dan tidak memutusnya, serta terhadap saudara-saudara kita seiman dengan tetap menjaga kehormatan mereka. Yang tidak kalah pentingnya, marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap dakwah kita yaitu dengan senantiasa di atas hikmah dalam menjalankannya.
    Hadirin rahimakumullah,
    Termasuk bagian yang paling penting dari bentuk ketakwaan seseorang adalah at-tafaqquh fiddin, yaitu bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kewajiban menuntut ilmu ini sangat erat kaitannya dengan takwa. Dengan bersemangat dalam menuntut ilmu, seseorang akan mengetahui perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan larangan-larangan-Nya. Sehingga dengan demikian, dia akan benar-benar tepat dalam menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk menuntut ilmu dan bertanya kepada ahli ilmu tentang agama kita, agar kita bisa benar-benar mewujudkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama-Nya yang husna, agar kita semuanya diberi pertolongan dan kemudahan untuk mewujudkan takwa dan istiqamah di atasnya sampai ajal mendatangi kita. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
    KHUTBAH KEDUA:
    الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتِمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
    Marilah kita senantiasa mewujudkan takwa di dalam kehidupan kita dan marilah kita senantiasa mengingat, bahwa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sumber segala kebaikan dan kunci untuk memperoleh kebahagiaan, serta bekal yang sangat berguna untuk kehidupan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
    Maka berbekallah kalian dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan dalam firman-Nya,
    إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ
    Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Rabb mereka (disediakan) surga yang penuh dengan kenikmatan.” (Al-Qalam: 34)
    Hadirin rahimakumullah,
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan di dalam ayat-ayat-Nya perihal keutamaan atau buah yang akan dipetik oleh orang yang bertakwa. Di antaranya adalah bahwa orang-orang yang bertakwa akan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
    Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 4)
    Di samping itu, orang yang bertakwa juga akan dikaruniai rasa aman dan kebahagiaan di saat sebagian orang ditimpa rasa takut dan kesedihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ {63} لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ
    Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.” (Yunus: 62-64)
    Termasuk buah dari bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bahwa orang-orang yang bertakwa akan dikaruniai furqan, yaitu pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala baik berupa ilmu atau yang lainnya, sehingga dengannya seseorang akan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, serta mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya bagi dirinya. Disamping itu juga akan dibersihkan jiwanya dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya dengan diberi kemudahan untuk beramal shalih sehingga akan menghapus kesalahan-kesalahannya. Begitu pula akan diampuni dosa-dosanya dengan diberi taufiq untuk senantiasa beristighfar dan bertobat dari dosa yang dilakukannya.
    Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيِغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
    Wahai orang-orang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepada kalian furqan dan Allah akan menghilangkan diri-diri kalian dari kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)
    Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
    Orang yang bertakwa juga akan diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari berbagai bahaya dan akan diberi jalan keluar dari setiap kesempitan yang menimpanya. Disamping itu juga akan dimudahkan berbagai urusannya serta diberi rezeki di luar dugaannya dari arah yang dia tidak sangka-sangka.
    Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
    وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُوَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
    Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”” (Ath-Thalaq: 2-3)
    Hadirin rahimakumullah,
    Dari ayat-ayat tersebut, kita mengetahui betapa butuhnya kita akan takwa. Karena setiap orang tentu menginginkan jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapinya. Terlebih permasalahannya menyangkut agama atau akhiratnya, karena masalah ini akan berkaitan dengan selamat dan tidaknya seseorang dari siksa kubur serta kejadian berikutnya saat berada di padang mahsyar sampai kemudian berujung pada selamat dan tidaknya dirinya dari terkena pedihnya siksa api neraka. Maka, setiap orang tentu membutuhkan ilmu untuk mengetahui mana yang haq dan mana yang batil, serta mana yang baik akibatnya dan mana yang berbahaya. Begitu pula yang berkaitan dengan urusan dunia, setiap orang tentu membutuhkan rezeki dan kemudahan dalam urusan-urusan yang dihadapinya. Baik yang berkaitan dengan istri, anak, dan keluarga maupun dengan masyarakat di sekitarnya. Semua ini akan bisa diselesaikan dan menjadi baik hasilnya apabila dihadapi dengan takwa. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua menjadi orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya.
    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
    اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ